Mau Jadi Pengusaha, Baca Ini!
  Mar 02, 2016   Muhammad Wendy TH
image

Wiraswasta, kemudian menjadi kaya, bebas sesuka hati mengendalikan ekonomi pribadi mungkin itu yang menjadi dasar pemikiran kaum muda ingin menjadi pengusaha dewasa ini. Belum lagi iklan pemerintah di mana-mana yang menggalakkan tiap individu agar tidak mencari kerja, tapi mendingan menjadi pengusaha. Apa salah, dan apakah menjadi pengusaha ketika lulus sekolah atau kuliah tidak akan sukses? Belum tentu, semua bergantung dari usaha dan ijin Allah tentunya. Di artikel ini saya akan membahas bagaimana kita menjadi pengusaha yang lebih siap, bukan menyalah-nyalahkan pada intinya. Karena diluar sana, banyak teman-teman yang mungkin butuh banyak share agar lebih mantap lagi dalam menjalankan usahanya.

Menjadi pengusaha jangan hanya menjadi emosi belaka, di mana kita akan dapat mengontrol penghasilan kita tanpa di kontrol oleh orang lain sebagaimana layaknya ketika kita menjadi karyawan di suatu tempat kerja. Justru menjadi pengusaha akan lebih banyak terbalik, di mana Anda akan mulai disibukkan melayani karyawan-karyawan Anda, tidak percaya? Contohnya, setiap bulan kita akan berpikir keras untuk menutupi gaji-gaji para karyawan, tiap bulannya kita akan menjoba meningkatkan fasilitas dari karyawan seiring dengan income, dan setiap bulan pula Anda di sibukkan dengan menganalisa keuangan baik yang masuk maupun yang keluar, bahkan plannya alias yang akan masuk dan yang akan keluar. Ini contoh sederhana dulu di mana kita akan bekerja extra ketimbang karyawan Anda sendiri tentunya, karena pekerjaan-pekerjaan tersebut pasti bukan pekerjaan inti Anda sebagai pengusaha bukan? :D

Betul, kita bisa merekrut orang untuk mengelola keuangan, tapi seberapa bisa ia menganalisa dan memahami kondisi keuangan seorang pengusaha, artinya seoarang karyawan tidak bisa menganalisa keuangan secara utuh untuk Anda bukan? Betul, kita bisa merekrut para marketing atau bahkan business analist atau business development, untuk membuat strategi bisnis Anda, tapi apakah akan seutuh pemikiran seorang pengusaha karyawan Anda itu? dan Jika target tak tercapai, apakah ia akan menanggungnya bersama dengan Anda? Jika ya, berarti dia juga seorang pengusaha bukan karyawan Anda, jika tidak apakah Anda akan memecatnya? Dan Anda akan mempunyai masalah baru tentang kehilangan seorang karyawan, di mana pasti akan berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

So, bagaimana kita mepersiapkan hal itu? Tentu saja kita perlu yang namanya Experiences/Pengalaman. Yang saya temui, teman-teman saya yang baru lulus kuliah dan mengadu nasib dengan menjadi pengusaha, tidak pernah punya pengalaman tentang aktivitas sebuah perusahaan. Misalnya, Dia tidak tahu bagaimana merekrut karyawan, menentukan gajinya, menyusun SOP,hingga menyejahterakannya misalnya. Apakah penting? Yes! Kalau saya masih sendiri? Kalau Anda masih sendiri atau berpartner dengan beberapa orang yang akan menjadi pemilik juga di perusahaan Anda nanti, Anda tetap harus memiliki pengetahuan merekrut karyawan, menentukan gajinya, menyusun SOP, dan menyejahterakannya. Why? Karena teman Anda dan Anda akan melakukan tugas double, yaitu sebagai pengusaha dan sebagai karyawan. Dan pasti pengen profesional, ketika Anda berbagi tugas ke teman Anda sebagai marketing misalnya, so dia harus punya kompeten sebagai marketing (merekrut), dan dapat gaji seorang marketing (menentukan gaji), selain sharenya, dia juga harus punya target (SOP). Ya kalau tidak, lucu juga kalau dia ga biasa ngobrol karena suka coding (sebagai programmer) misalnya trus dipaksa jadi marketing, ya pasti bisa tapi gak optimal bukan? kemudian dia di gaji sama dengan Anda, padahal Anda bekerja/berperan berbeda yang lebih santai misalnya. Apalagi kalau dia jadi gak ada target dan SOP yang jelas, pasti akan kacau juga aktivitasnya bukan? Apa ini sering terjadi? Yes, banyak yang melakukan aktivitas menjalan perusahaan tapi tidak memikirkan bagaimana berjalan yang baik :)

Balik ke pengalaman, pengalaman dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu dengan terjun dan melakukannya langsung, atau dengan membaca buku atau sharing dengan orang lain yang pernah bergelut. So, tidak salah kalau belum pengalaman bekerja sebelumnya, dan benar-benar mengetahui seluk beluk menjalankan perusahaan, karena kita dapat membaca dan sharing dengan teman untuk memperoleh pengetahuan ini. Dan pastinya akan lebih mantab ketika kita punya pengalaman melalui praktek dan terjun langsung ke lapangan dengan menjadi karyawan yang baik terlebih dahulu, karena biasanya praktek dan teori akan jauh hasilnya :) ini menurut pendapat saya saja.

So pesan saya terakhir kepada pemerintah, kalau bapak atau ibu ingin mengurangi pengangguran, jangan hanya dengan menggalakkan program kasih dana dan suruh usaha, jangan kerja, karena akan menciptakan lapangan kerja baru saja. Tapi mulailah dengan supporting pengusaha existing untuk dapat terus maju, dan menciptakan lebih luas lagi lapangan kerja, kemudian karyawan-karyawannya yang sudah dewasa (dalam hal bisnis) bisa memulai menjadi pengusaha, atau dengan supporting ilmu dan wawasan kepada para pengusaha baru. 

Thanks semoga bermanfaat, Wendy