Tragedi Mei 2006
  Dec 26, 2013   Muhammad Wendy TH
image

Hari Sabtu pagi, Bumi Yogyakarta berguncang dengan hebatnya. Saat itu saya sedang tertidur pulas di kasur tipis yang tergelatak di lantai kamar kontrakan di Yogyakarta. Semalam, saya dan teman-teman menghabiskan waktu hingga jam 1 pagi di lokasi pengungsian dan menara pandang Merapi. Karena masa-masa itu sedang maraknya pemberitaan tentang merapi yg tengah aktif dan di prediksi akan meletus kembali.

Karena takut tidak kesampean sholat subuh, maka saya baru merebahkan diri di kasur selepas sholat subuh. Akan tetapi, begitu bumi bergonjang-ganjing dengan hebatnya, maka di pagi itu saya kembali terbangun. Sebu ah pot miniatur bunga yang kuletakkan di jendela tiba-tiba jatuh mengenai kepalaku, kemudian di susul dengan beberapa benda seperti pisau lipat dan perintilan lainnya. Seketika aku terjaga dan memandangi seisi kamar yg porak-poranda, mulai dari buku-buku yg berjatuhan dari rak buku, beberapa koleksi-koleksi CD, baju berhamburan keluar dari lemari, hingga monitor komputer butut kesayangan miring tak jelas. “Apakah kamarku habis kemalingan ya?” sambil bergumam mengumpulkan nyawa. Setelah nyawa sedikit terkumpul, terdengar teriakan-teriakan dari luar, dan mulai terasa olehku bahwa bumi sedang bergoncang, semakin kerasnya, dan secara spontan aku keluar dari kamar yang memang tidak pernah ku kunci.

Karena kamarku terletak langsung ke teras dan menuju ke luar rumah kontrakan, maka dengan seketika aku sudah berada di pinggir jalan menyaksikan teriakan tobat dari para tetangga. Tangis dan teriak berbingar-bingar di telinga, sambil menahan diri untuk tetap pada titik normal keseimbangan akan guncangan. “Apakah ini kiamat kubro?”, tanyaku dalam hati. Semua mulai hancur, genteng berjatuhan, tanah bergelombang seakan-akan akan hancur berantakan. Dan setelah berjalan sekitar 20 detik, akhirnya bumi kembali berangsur diam. Dan dengan segera aku berlari menuju titik pandang menuju gunung berapi, karena seingatku hanya itu yang memungkinkan ini terjadi. Ternyata, gumpalan asap tebal keluar dari puncak gunung itu,sepertinya terjadi letupan besar tadi yang mengakibatkan kami yang berada di daerah kaliurang sini terimbas getaran begitu hebatnya, hanya itu yang bisa ku analisa saat itu.

Akhirnya saya dan teman-teman menuju ke kaliurang atas untuk menyaksikan peristiwa letupan merapi itu, dengan segera setelah menyapa warga sekitar setelah kejadian tadi, kami bergegas mengambil sepeda motor untuk menuju ke kaliurang atas. Sesampainya di sana, banyak pengunjung memenuhi lokasi di mana dapat melihat merapi dengan jelas. Ada yg bersama keluarga, ada para wartawan, dan beberapa warga sekitar lokasi itu. Hingga terdengar isu-isu bahwa sumber gempa di Jogjakarta bagian selatan, dan terancam tsunami, bahkan ada yang mengatakan bahwa daerah malioboro telah terendam air, karena telah terjadi tsunami. Tapi kami tidak menanggapi dengan serius, dan menikmati santapan sarapan pagi di warung sekitar lokasi itu. Hingga seorang adek teman menelpon dengan nada ketakutan tsunami, dan mengadu bahwa kosnya hancur, akan tetapi di tampik keras oleh teman bahwa sumber gempa adalah merapi. Jadi tidak mungkin terjadi tsunami tentunya.

Karena seketika orang-orang tidak seramai awal kita datang, dan tiba-tiba mulai sepi, maka kami mencoba mengkonfirmasi kembali isu tersebut kepada salah seorang warga yang ada di lokasi itu. Warga tersebut membenarkan isu itu karena mendapat informasi via telepon bahwa rumah keluarganya hancur di daerah selatan. Akhirnya kita bergegas turun dari kaliurang dan menuju ke daerah selatan, di tambah lagi rasa penyesalan teman yang telah menampik isu dari adiknya. Tampak di jalan kaliurang macet karena padat akan isu yg tersebar, antara yang mau menyelamatkan diri dari tsunami, dan ingin menuju ke selatan karena ingin melihat keluarga atau kerabat yang berada di selatan. Akhirnya morat-marit antrian BBM, dan kebut-kebutan di jalan tak terhindarkan lagi di suasana padat itu. Kamipun yang sedang gelisah menuju ke selatan jadi terhambat karena padatnya lalu lintas dengan gelintiran orang yang sangat resah. Setelah tiba di kontrakan kembali, kami mencoba menanyakan kepada tetangga akan hal itu, apakah benar akan isu tsunami itu? Tapi setelah tetangga mengamati di TV, bahwa benar sumber gempa Yogyakarta adalah di daerah selatan Jogja, tapi bisa di pastikan tidak terjadi tsunami.

Setelah meyakini hal tersebut, kami mencoba untuk menuju ke daerah selatan mencoba mencari tau keadaan teman-t

eman kami tentunya yang ada di daerah selatan Yogyakarta. Setelah mendapat informasi dari mana-mana, ternyata keadaan di daerah selatan Yogyakarta itu benar sangat memprihatinkan, hitungan korban jiwa menyelimuti pendengaran kami, rasa sedih, bingung, takut tercampur dalam benakku saat itu sambil sesekali merasakan gempa-gempa susulan, yang menyebabkan orang-orang berlarian keluar.

Setelah mendapatkan ATM berfungsi di salah satu titik, setelah beberapa saat pontang panting mencari ATM yang semuanya mati, maka saya memutuskan siang itu untuk menuju ke Klaten memastikan bahwa keluarga di sana baik-baik saja. Karena daerah itu di kabarkan memprihatinkan, dan rumah keluarga di kabarkan hancur. Setelah berkunjung ke sana hingga selepas magrib, akhirnya saya dan kawan kembali ke Yogyakarta. Semrawut Lalu lintas di jalan menambah ketakutan, tidak jarang ambulance mondar mandir dari segala arah, beberapa wilayah tidak ada listrik, bau yang tercium hanya abu dan bau mayat. Sangat mencengangkan, hingga kabar kawan-kawan di Yogyakarta sepakat menginap dan ngumpul bersama di kontrakan, terutama anak-anak putri yang penuh ketakutan ikut mengungsi di kontrakan kami.

Keesokan harinya, bulatlah tekad setelah menyaksikan korban-korban yang berjatuhan melalui TV. Akhirnya dengan penuh semangat, beberapa dari kami menjadi relawan. Jujur pribadi saya tidak punya skill apa-apa untuk membantu di PMI (Palang Merah Indonesia) kecuali semangat dan keikhlasan. Dana? Saya masih mahasiswa siy waktu itu, dan kondisi memang saya juga lagi butuh dana untuk diri sendiri. Di PMI menjadi relawan, akhir saya hanya bisa membantu dengan tenaga, dan menghibur para korban denga senyuman-senyuman dan guyonan ketika mereka menuju ke meja sekretariat dan bertanya dengan memprihatinkan, “keluarga saya kemana? Mereka hilang…”, atau yang bertanya seperti ini, “Aku sakit, aku bingung, aku takut”. Sungguh sangat menyedihkan, dan saya hanya punya modal mengajak mereka berbincang bincang, sesekali mengajak untuk tertawa bersama teman-teman yang sebenarnya tidak ku kenal yang datang dari berbagai sekolah waktu itu, ada yg sudah kuliah, masih smp, masih smu, dan lain sebagainya.

Hari ke-2 paskah gempa, saya mulai meninggalkan posko PMI karena merasa bahwa relawan di sana sudah semakin banyak malam kemarin, jadi saya harus mencari lokasi lain yg lebih membutuhkan. Akhirnya teman yang lain memberikan info bahwa di rumah sakit Dr. Sardjito dekat kampus sangat membutuhkan, di sana bisa membantu mengangkat korban atau mengantarkan korban menggunakan tempat tidur dorong dan lain sebagainya. AKhirnya dengan penuh semangat, hari ke-2 saya habiskan di Dr. Sardjito. Di sana menemui orang-orang baru yang sebenarnya tidak ku kenal tapi tetap dalam kesatuan tekad. Di sana saya mengangkat korban dari mobil ke tempat tidur dorong, dan mngantarkan ke kamar-kamar, atau mengantarkan dari kamar ke ambulance untuk kembali ke rumah. Sesekali menemani ngobrol para ibu-ibu yang bertugas di rumah sakit, jadi dapat makanan tambahan biasanya :P piss. Atau tertawa tawa dengan pasien korban gempa saat mengantarkannya ke kamar, atau di ambulance sebari menuju ke rumahnya. Sungguh menyenangkan bisa membantu walau tidak berarti, setidaknya ada senyum di wajah para korban tersebut.

Selain itu, pasca gempa sesekali aku sempatkan sesekali mengunjungi pengungsian-pengungsian di Bantul, untuk bermain dengan para anak-anak yang trauma. Dengan penuh semangat mereka dengan senang ketika kami datang ke lokasi mereka, bahkan kami telah di nanti di jalan oleh mereka dan di sambut dengan hangat oleh mereka. Sayangnya saat itu saya tidak bisa berbuat banyak kecuali memberikan bantuan senyum dan tawa. Sekedar ikut berlarian bersama mereka, sekedar jadi tempat mereka curhat, dan lain sebagainya. Dan untunglah di sela-sela main bersama mereka yang mungkin sudah melupakan saya, saya di lancarkan untuk menulis tugas akhir, pak dosen jadi gampang dihubungi, dan kelanjutan cerita skripsi pun berjalan. Thx Fur All, Karena kalian, hidupku penuh warna di Yogyakarta. Setidaknya bisa menjadi bagian dari kalian sesaat, bermandikan debu bermain bola bersama, bermandikan lumpur berlarian di sore itu, melihat senyum pasien karena melihat saya ketakutan melihat darah para pasien, atau memberikan seminar di SMK 1 Bantul tentang teknologi yang sebenarnya saya pun tak ada apa-apanya, tapi bahan seminarnya masih kusimpan kok. Yang penting kan ketawa-ketawanya, bukan seminarnya… Piss.